hosting murah

Futuhat dan Imperialisme

Futuhat dan Imperialisme, Imperium Islam, Daulah Islam

Beberapa hal yang menjadi ukuran kebesaran suatu kekuasaaan diantaranya adalah wilayah dan pengaruh. Wilayah yang luas dan sumber daya yang melimpah menggambarkan kekuatan fisik sebuah negara. Sedangkan luasnya pengaruh menggambarkan kekuatan politik luar negeri dan ideologi yang dianut. Karena itu pada hakekatnya, sebuah kekuasaan akan terus mencari lahan baru baik untuk memperbesar tubuh ataupun menyebarkan ideologi. Perluasan tubuh negara-negara dan penyebaran ideologinya di kemudian hari kita kenal dengan istilah imperialisme. Paul James dan Tom Nairn, ilmuan dari The Center of Global Research menyatakan “bahkan jika suatu imperial tidak melakukan perluasan wilayah sebagaimana kita fahami sekarang, kekuasaan tersebut tetap memiliki kecenderungan untuk meluaskan pengeruhnya ke wilayah sekitarnya”.

Sejarah menunjukan, Imperium Islam pun melakukan perluasan wilayah dengan penaklukan –baik bersenjata maupun tidak-. Selain itu Daulah juga menancapkan pengaruhnya dengan sangat kuat kepada dunia baik dari sisi ekonomi maupun politik. Hal ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan berkait dengan imperialisme semisal, Apakah Futuhat yang dilakukan khilafah merupakan bentuk imperialisme?, atau apakah penaklukan yang dilakukan oleh barat sama dengan penaklukan oleh islam?. Jika jawaban dua pertanyaan itu adalah tidak, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menjawab tuduhan orang yang mengatakan bahwa khilafah juga melakukan penjajahan (Imperialisme)?

Pengertian Imperialisme

Secara bahasa Imperialisme memiliki akar kata bahasa latin “imperare” yang berarti memerintah. Hak untuk memerintah disebut imperium. Secara istilah, Oxford Dictionary menggambarkan makna Imperialisme sebagai “a policy of extending a country's power and influence through colonization, use of military force, or other means”. Sedangkan Menurut Merriam-Webster Dictionary, imperialisme diartikan ”the policy, practice, or advocacy of extending the power and dominion of a nation especially by direct territorial acquisitions or by gaining indirect control over the political or economic life of other areas; broadly : the extension or imposition of power, authority, or influence”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “imperialisme adalah sistem politik yang bertujuan menjajah negara lain untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan yang lebih besar”.

Dari pengertian-pengertian diatas dapat kita dapat menyimpulkan bahwa imperialisme merupakan suatu ide yang menghendaki penguasaan atas suatu wilayah baik merebut wilayah tersebut, atau hanya melakukan dominasi atas ekonomi politik sosial budaya, dengan atau tanpa agresi militer.

Imperialisme juga sangat erat kaitannya dengan kolonialisme. Mereka bagaikan dua mata uang yang saling membutuhkan satu sama lain. Kolonialisme lahir sebagai ekspresi dari imperialisme.

Namun, untuk memahami hakikat sebuah faham/isme lebih dalam, kita perlu mengetahui sejarah terbentuknya faham tersebut sehingga nantinya akan kita dapatkan motif terbentuknya dan ideologi mana yang dijadikan sandaran. Metode ini sangat penting untuk dipahami para pemikir agar tidak mencampur adukan produk pemikiran suatu ideologi tertentu dengan ideologi lainnya.

Sejarah Imperialisme

Para sejarawan membagi imperialisme ini kedalam dua fase, yaitu Ancient Imperialism dan Modern Imperialism. Dimana Ancient Imperialism dilakukan sebelum revolusi industri, dipelopori oleh Portugal dan Spanyol dengan semboyan “gold, glory, and gospel”.

Sebenarnya Ancient imperialism telah dilakukan jauh sebelum revolusi industri. Imperialisme yang dilakukan China, Jepang, India, Mongol, Romawi, Persia, Byzantium, Imperium Islam, dll juga dimasukan dalam kategori Ancient Imperialism. Hanya saja, istilah Imperialisme itu sendiri baru menggaung di Britania Raya pada tahun 1870-an ketika Louis Napoleon Bonaparte rutin melakukan agesi militer di Eropa. Publik Britain menyebut apa yang dilakukan Napoleon III tersebut dengan istilah Imperialism yang berkonotasi negatif.

Imperialisme Modern atau dikenal dengan “Age of Imperialism” dimulai pada abad 18 (sekitar tahun 1700-an) dimana negara-negara industri terlibat langsung dalam proses kolonialisasi, penyebaran pengaruh, dan pencaplokan berbagai wilayah diluar Eropa. Age of Imperialism mengacu pada aktivitas imperialisme Eropa dari awal abad 18 hingga pertengahan abad 20.

Imperialisme Eropa sebagian besar berfokus pada pertumbuhan ekonomi dengan mengumpulkan sumber daya ekonomi dari negara koloni dengan juga melakukan kontrol politik dan penguasaan menggunakan militer. Sebagai contoh, kolonialisasi di India pada abad 18 yang dilakukan oleh Inggris. Inggris melakukan penguasaan atas sumber-sumber ekonomi untuk menambah pendapatan negara mereka dengan mengeksploitasi politik dan administrasi, serta melakukan agresi militer. Hal ini juga dirasakan oleh Nusantara (Indonesia) yang dikolonialisasi oleh Belanda. Belanda menguasai seluruh sumber ekonomi serta menempatkan gubernur jenderal untuk mengatur administrasi negeri koloni, didukung oleh para priyayi yang kerap dijuluki “centeng kompeni” oleh pribumi.

Berbicara imperialisme Eropa, tentu tak dapat kita lepaskan dari peran Inggris sebagai negara Imperialis terkuat di dunia saat itu. Pada tahun 1913, The British Empire berpenduduk 412 juta kepala, 23% dari total pendudk dunia saat itu, dan pada tahun 1920, total luas kekuasaan British Empire adalah 35.000.000 km2, 24% dari total luas daratan di bumi. Bahkan penduduk dunia menggambarkan imperium ini sebagai “the empire on which the sun never sets”.

Hasilnya adalah, seluruh tatanan dunia baik dari segi ekonomi, politik, sosial, budaya, dan bahasa dipengaruhi oleh Inggris. Melahirkan negara-negara kapitalis baru seperti Amerika Serikat dan Australia. Bahkan hingga sekarang, bahasa Inggris masih menjadi Bahasa internasional utama. Imperial ini berperan besar dalam konstelasi politik internasional pada awal abad 20, termasuk usaha peruntuhan institusi Khilafah yang puncaknya adalah proklamasi penghapusan tameng umat Islam tersebut pada 3 Maret 1924.

Negara imperialis terbesar kedua setelah Inggris adalah Perancis yang pada tahun 1920 luas kekuasaannya adalah 11.500.000 km2 dengan 110.000.000 populasi pada tahun 1939. Sebagaimana Inggris, perancis juga sangat mempengaruhi konstelasi politik internasional, termasuk pengeksporan demokrasi-sekuler ke seluruh dunia. Pada akhir abad ke-20 dan memasuki abad 21, imperialisme kini lebih dikenal dengan istilah Neo-Imperialisme. Istilah ini digunakan untuk membedakan dengan imperialisme di masa sebelumnya. Neo-Imperialisme merupakan buah dari Imperialisme masa lalu. Dilakukan dengan menggunakan ideologi dan pemikiran yang ditancapkan ke seluruh dunia. Mengendalikan dunia tanpa perang dan kolonialisasi.

Hakikat Imperialisme

Dari cuplikan sejarah diatas, dapatlah kita tarik kesimpulan mengenai imperialisme tersebut. Ide ini dilakukan untuk memperkaya negara-negara imperialis. Mereka melakukan penjajahan dan kolonialisasi terhadap negara-negara yang sebagaian besar kita kenal sekarang dengan sebutan negara dunia ke-3 atau dalam ilmu ekonomi disebut dengan negara berkembang. Penghisapan luar biasa yang dilakukan oleh negara-negara besar tersebut telah membuat ketimpangan akumulasi modal antara negara maju dan berkembang. Otomatis ketergantungan negara-negara berkembang akan negara maju sulit untuk dihindari.

Selain dari sisi ekonomi, negara-negara imperialis juga melakukan ekspor pemikiran dan ideologi. Seperti demokrasi-sekular yang digawangi oleh Perancis dan Belanda, serta sistem ekonomi Kapitalisme yang digawangi oleh Inggris Terbuktilah perkataan Ibnu khaldun yang menyatakan, “Bangsa terjajah selalu mengikuti mode penjajah, baik dalam slogan-slogan, gaya busana, agama dan keyakinan, serta berbagai aktivitas dan perilaku mereka”. (Muqoddimah pasal ke-23, 1377 M).

Politik Luar Negeri Khilafah

Seperti yang kita ketahui, secara historis, daulah islam mulai dari zaman Rasulullah hingga Bani Utsmaniyah juga melakukan perluasan wilayah dan penaklukan berbagai negeri. Daulah Islam juga melakukan penyebaran ideologi Islam ke seluruh dunia, bahkan hal ini dijadikan prinsip utama politik luar negerinya.

Akidah Islam mengharuskan negara Khilafah untuk menyebarluaskan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia. Dengan kata lain, penyebarluasan dakwah Islam merupakan prinsip politik luar negeri negara Khilafah Islam dalam membangun hubungannya dengan negara-negara lain, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun budaya, dan sebagainya. Pada semua bidang itu, dakwah Islam harus dijadikan asas bagi setiap tindakan dan kebijakan.

Islam membagi dunia ini kedalam dua jenis, yaitu Darul Islam dan Darul Kufr. Darul Islam merupakan negeri dimana disana diterapkan islam sebagai tatanan pengaturan kehidupan. Sedangkan darul kufr mengacu pada negeri dimana Islam tidak diterapkan sebagai institusi formal meskipun penduduknya muslim. Atas dasar inilah Khilafah mengambil sikap kepada negara-negara lainnya.

Negara Khilafah Islam menerapkan politik luar negeri berdasarkan metode (thariqah) tertentu yang tidak berubah, yakni dakwah dan jihad. Metode ini tidak berubah dan terus dilaksanakan dari masa ke masa, mulai dari Daulah Islam pertama di Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah hingga masa akhir khilafah yang dipimpin oleh keluarga Utsman. Di zaman Rasulullah, beliau menyerukan jihad untuk menhancurkan rintangan fisik bagi dakwah hingga dakwah bisa menyebar di Jazirah Arab. Hal ini diteruskan para khalifah seterusnya hingga islam dapat menyebar ke seluruh penjuru dunia

Dengan menyingirkan hambaran dakwah berupa penguasa yang menerapkan sistem kufur dan institusnya, dakwah islam dapat masuk dan diterapkan secara maksimal, sehingga masyarakat dapat melihat keadilan yang diberikan islam dan pada akhirnya mereka berbondong-bondong memeluk Islam.

Memang metode penyebaran Islam adalah dengan cara jihad (perang). Namun, perang bukanlah langkah pertama yang dilakukan Khilafah. Khilafah tidak pernah memulai peperangan menghadapi musuh-musuhnya, kecuali telah disampaikan kepada mereka tiga pilihan. Pilihan pertama, memeluk Islam. Kedua, membayar jizyah, artinya mereka tunduk kepada Negara Khilafah Islam berikut aturan-aturannya. Jika dua pilihan ini ditolak, langkah terakhir adalah dengan memerangi mereka. Semua ini dilakukan dengan tujuan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia dan menghapus segala bentuk kekafiran dan kemusyrikan. Dengan begitu, akan turunlah rahmat dari Allah bagi negeri negeri tersebut.

Kesimpulan

Secara kasat mata, kita memang dapat melihat kesamaan antara imperialisme yang dilakukan oleh barat dengan politik luar negeri dalam islam. Barat mengobarkan perang keseluruh dunia, begitupun dengan islam. Barat mengekspor ideologinya ke seluruh dunia, islam pun demikian.

Akan tetapi apabila kita cermat, kita akan melihat jurang perbedaan yang sangat dalam antara politik luar negeri barat dengan islam. Imperialisme dijalankan berasaskan materi, dengan tujuan materi. Penyebaran ideologi yang dilakukan pun bertujuan untuk menancapkan kuku lebih dalam ke negara jajahan agar tetap berada dalam kendali negara imperialis. Hal ini tentu berbeda dengan islam yang menjalankan politik luar negeri –berupa jihad dan dakwah- dengan dilandasi tujuan untuk menyebarkan rahmat ke seluruh penjuru alam dan menyejahterakan umat manusia. Imperialisme dan politik luar negeri Khilafah (Dakwah & Jihad) sudah berbeda mulai dari fundamen, metode, hingga tujuannya sehingga antara keduanya tak dapat disamakan. (abadkhilafah.com/Arief)
Label:

Post a Comment

Abad Khilafah

{facebook#http://facebook.com/AbadKhilafah} {twitter#http://twitter.com/AbadKhilafah} {google-plus#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#http://instagram.com/AbadKhilafah}

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget