hosting murah

Dukung Warga Protes Suara Adzan, Politikus PDIP Dinilai Provokasi Umat Islam

Dukung Warga Protes Suara Adzan, Politikus PDIP Dinilai Provokasi Umat Islam

Kerusuhan berbau SARA di Tanjungbalai yang dipicu oleh protes warga keturunan Tionghoa terhadap suara adzan mendapat tanggapan para politikus. Diantaranya politikus PDIP.

Politikus PDIP Eva Kusuma Sundari menilai, keberatan yang diajukan seorang penduduk di Tanjung Balai terhadap pengeras suara masjid bukan bentuk ujaran kebencian atau hate speech.

"Protes tersebut wajar dan bukan bentuk kejahatan," kata anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 31 Juli 2016, seperti dikutip Tempo.

Eva beralasan, pada 2015, Jusuf Kalla, yang menjabat sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia, berulangkali meminta speaker masjid diatur agar tidak terjadi polusi suara. “Apakah kita hendak anggap Pak JK melakukan kejahatan? Saya kira tidak. Protes ini wajar. Bukan (bentuk) kejahatan,” katanya.

Pernyataan politikus PDIP ini mendapat tanggapan ramai dari publik. Eva dinilai sengaja memprovokasi umat Islam.

"Pernyataan politikus PDIP Eva Kusuma Sundari itu sengaja memprovokasi umat Islam. Kejadian di Tanjungbalai itu bukan hanya sikap protes warga keturunan Tionghoa terhadap azan tetapi sikap arogansi yang memunculkan peristiwa itu," kata pemikir Islam Muhammad Ibnu Masduki, Selasa (2/8).

Kata Ibnu Masduki, PDIP khususnya Eva Kusuma Sundari harusnya melihat kasus ini secara jernih. “Beberapa warga nonmuslim tidak protes dengan adanya azan. Nonmuslim pun sudah tahu, azan itu bagian dari panggilan sholat,” ungkapnya.

Ibnu Masduki mengatakan, pernyataan PDIP itu memunculkan kebencian terhadap umat Islam. “Pernyataan itu bisa bagian dari ujaran kebencian,” papar Ibnu Masduki, seperti dilansir suaranasional.

Seperti diberitakan, peristiwa kerusuhan yang terjadi di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara, pada Jum’at malam hingga Sabtu  (29-30 Juli 2016) dini hari, dipicu oleh keberatan dari seorang warga Tionghoa bernama Meliana (41 tahun) terhadap suara adzan dari masjid Al-Makshum.

Sekretaris Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Al-Makshum, Dailami menuturkan, bahwa sudah sejak lama Meliana melakukan protes terhadap suara yang keluar dari speaker/toa masjid.

“Terakhir, 5 hari sebelum kerusuhan dia (Meliana, red) menyampaikan keberatannya soal suara dari masjid,” ujarnya kepada hidayatullah.com di Tanjungbalai, Senin (01/08/2016).

Setelah melaksanakan sholat maghrib pada Jum’at (29/07), Dailami bersama seorang pengurus masjid lain bernama Haristua Marpaung memutuskan untuk mendatangi rumah Meliana yang berada persis di depan Masjid Al-Makshum, guna menanyakan ihwal keberatannya tersebut.

Namun, kata Dailami, setelah membuka pintu, Meliana justru menjawab pertanyaan dirinya dan Haristua dengan nada yang dinilai menantang.

“Itu bising kami terganggu. Kau tahu! Pekak telingaku dengar suara dari corong tu, tak tentram aku,” ucapnya dengan logat Medan menirukan Meliana.

Warga pu tak terima hingga terjadi amuk massa.

Post a Comment

Abad Khilafah

{facebook#http://facebook.com/AbadKhilafah} {twitter#http://twitter.com/AbadKhilafah} {google-plus#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#http://instagram.com/AbadKhilafah}

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget