Latest Post

Abad Khilafah - Pada hari Ahad, 7 Januari 2018 bertepatan dengan 19 Rabiul Tsani 1439 H telah terselenggara kegiatan mudzakarah Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah (ASWAJA). Kali ini lima puluhan ulama dan asatidz berkumpul di Markaz Tahfidz Al-Aufy, Wonosari-Klaten membahas sikap ulama atas nasib kaum muslimin di Palestina.

Dalam mudzakarah ini, ustadz Yan Ibnu Hadi sebagai ketua forum silaturahmi Ulama dan tokoh umat Soloraya mengundang sekitar lima puluh ulama, kyai dan asatidz yang ada di Soloraya (Solo, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Karanganyar dan Boyolali).  KH Ahmad Faiz, selaku shohibul bait menyampaikan salam takdzim dan penghormatan atas kesediaan para ulama menghadiri acara tersebut. 

Narasumber disampaikan oleh KH Habib Rasyid dari Semarang. Beliau meyampaikan bahwa permasalahan Palestina adalah permasalahan umat Islam. Para ulama dan asatidz serta tokoh masyarakat sangat diperlukan perannya dalam menyadarkan umat bahwa Jihad dan Khilafah  adalah solusi permasalahan Palestina. Pernyataan tersebut dengan semangat diamini oleh hadirin.

Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh ustadz Yan Abdul Hadi. Setelah foto bersama dilanjutkan ramah tamah hingga azan asar berkumandang.

Politik dalam Demokrasi adalah Tujuan

Secara mendasar, manusia hidup di dunia ini adalah dalam rangka memenuhi dua hal yang melekat pada dirinya, yaitu kebutuhan jasmani (fisik) dan dorongan naluri. Untuk memenuhinya, manusia memerlukan dua hal, yaitu 'alat' untuk memenuhinya kebutuhan dan 'aktivitas' yang digunakan untuk memenuhinya. Alat dan aktivitas manusia itu banyak jenisnya. Ada yang sifatnya baku (tetap, tidak bisa digantikan yang lain), ada yang sifatnya tidak baku (fleksibel). Maka, manusia harus bisa mengidentifikasi atas berbagai alat dan aktivitas yang begitu banyak ini, agar dalam menjalani kehidupan, hidup manusia terarah, terukur, dan tidak berakhir menjadi hal-hal yang kurang bermanfaat.

Contohnya lapar. Lapar adalah salah satu indikasi keberadaan kebutuhan jasmani (fisik). Setiap manusia, selama dia hidup, dia akan merasakan lapar. Maka manusia harus mencari 'alat' dan 'aktivitas' yang bisa membuatnya tidak lagi lapar. Untuk alatnya, tentu bisa berbagai macam alat. Bisa dengan ubi (singkong), nasi, roti, ketela, jagung, sereal, atau yang lainnya. Sedangkan untuk aktivitasnya, hanya satu yang bisa digunakan untuk memenuhinya, yaitu makan. Maka, makan ini menjadi aktivitas yang bersifat tetap atau baku. Sebab, aktivitas makan tidak bisa diganti dengan minum atau tidur. Sekalipun orang minum air seember atau tidur 10 jam, tetap tidak akan bisa menjadi 'obat' lapar. Jadi, makan ini menjadi aktivitas baku manusia yang tidak bisa diganti dengan aktivitas lain. Adapun cara makannya seperti apa; apakah harus tiga kali sehari (makan pagi, makan siang, dan makan malam), atau dua kali sehari, atau selalu makan setiap kali merasa lapar, ini adalah cara-cara makan yang sifatnya fleksibel, beragam cara bisa ditempuh. Maka, aktivitas makan, mau tidak mau tetap harus ditempuh manusia. Tetapi, makan bukanlah sesuatu yang hendak dituju (makan bukanlah tujuan). Sebab, akhir atau ending dari aktivitas makan, adalah tercapainya rasa lapar. Bukan aktivitas makan itu sendiri. Dengan kata lain, tujuan orang makan adalah menghilangkan lapar, bukan 'memenuhi aktivitas makan'. Misalnya, kita makan siang, semata-mata karena saat itu kita lapar. Bukan karena 'jam makan siang'. Seandainya saja, kita makan pagi terlalu banyak sehingga pada siang hari kita tidak merasa lapar, namun kita tetap memaksakan diri untuk makan, maka makan siang kita ini tujuannya bukanlah menghilangkan rasa lapar, tetapi tujuannya adalah ‘memenuhi cara makan’ yaitu makan tiga kali sehari (makan pagi, makan siang, makan malam). 

Dari sinilah kita bisa membedakan, ada begitu perbedaan berbagai alat dan aktivitas dalam kehidupan manusia. Bahkan tujuan juga termasuk di dalamnya. Karena itulah, seorang politikus Timur Tengah, Taqiyuddin An-Nabhani membedakan antara tujuan (ghayah), metode (thariqah), cara atau gaya (uslub), dan sarana (wasilah). Pembedaan ini akan sangat menentukan bagaimana manusia berbuat atau berperilaku. Tujuan (ghayah) adalah apa-apa yang ingin dicapai. Tujuan adalah ending dari segala usaha. Tujuan disebut dengan ghayah. Aktivitas atau ‘alat’ yang bersifat baku dan tidak bisa digantikan yang lain dalam rangka memenuhi tujuan (ghayah), disebut dengan istilah metode (thariqah/jalan). Pemakaian kata ‘alat’ dalam tanda kutip di sini hanya untuk memudahkan memahami, bukan alat yang dimaksud dalam konteks sarana (wasilah). Dalam Islam, thariqah merupakan hukum syara’ tertentu yang harus (wajib) dilakukan. Sedangkan aktivitas yang bersifat fleksibel atau tidak baku dalam rangka meraih tujuan, disebut dengan cara/gaya (uslub). Sementara berbagai sarana dan prasarana yang digunakan untuk meraih tujuan disebut dengan sarana (wasilah). Wasilah dan uslub ini sangat berkaitan erat. Sebab, membahas tentang wasilah, tidak akan bisa dilepaskan dari membahas tentang uslub.

Ketika sekelompok manusia mulai berpikir, bahwa kumpulan individu-individu ini harus ada yang mengurus (agar tidak terjadi konflik horizontal, agar tercipta kesejahteraan, agar tegak keadilan), maka aktivitas mengurus urusan individu-individu ini termasuk dalam aktivitas manusia secara umum. Karena itu, harus ada pemimpin atau kepemimpinan yang mengurusi kumpulan individu tersebut. Pemimpin atau kepemimpinan inilah yang disebut dengan politik. Sampai di sini, hendaknya manusia berpikir, mana yang merupakan tujuan, mana yang merupakan metode, uslub, dan wasilah. Dengan begitu, manusia tidak melakukan sesuatu yang sia-sia dalam beraktivitas.

Idealnya, terciptanya kesejahteraan, penyelesaian konflik, dan tegaknya keadilan, adalah tujuan (ghayah) dari sebuah amal (aktivitas). Dengan begitu, manusia bisa mengalihkan perhatiannya untuk menentukan, metode apa yang harus ditempuh? Ingat, metode (thariqah) adalah jalan baku, yang tidak ada jalan lain selain jalan tersebut. Maka, bisa diketahui bahwa politik atau kekuasaan, adalah sebuah jalan atau metode (thariqah) yang harus ditempuh demi tercapainya tujuan (ghayah). Sebab, tanpa adanya politik atau kekuasaan, maka tujuan (ghayah) tidak akan tercapai. Bagaimana dengan pendirian partai politik atau lembaga sosial, yang mereka sering terlihat menyalurkan bantuan-bantuan sosial untuk masyarakat? Partai politik atau lembaga sosial, hanya bisa memberikan bantuan, semampu mereka saja. Jadi sangat terbatas sekali. Apalagi partai politik, kebanyakan dari mereka hanya memberikan bantuan saat menjelang pemilu atau pilkada saja. Jadi, partai politik atau lembaga sosial, tetap tidak bisa menggantikan keberadaan institusi yang memiliki politik atau kekuasaan. Sehingga bisa dikatakan bahwa politik atau kekuasaan, adalah metode atau jalan (thariqah) untuk mewujudkan tujuan (ghayah).

Sampai di sini, seharusnya kita bisa mengevaluasi cara berpolitik dalam negara demokrasi seperti apa. Kebanyakan politisi di negara demokrasi, telah salah dalam memandang politik. Mereka memandang politik sebagai tujuan (ghayah), ending dari amal (aktivitas). Hal itu terlihat dari perilaku berpolitik mereka yang begitu bersemangat dalam berusaha meraih kekuasaan (politik). Berbagai potensi yang dimiliki, mereka kerahkan semaksimal mungkin dalam rangka mewujudkan tujuan mereka. Apa itu? Yaitu politik atau kekuasaan. Kita bisa melihat, setiap kali akan dihelat perhelatan akbar demokrasi, yaitu pemilu atau pilkada, para politisi ini begitu sibuk. Sibuk sekali. Tenaga, waktu, harta mereka keluarkan sedemikian besar. Sebagai pengingat saja, untuk biaya pemilu di Indonesia tahun 2014, telah menghabiskan biaya sebesar 14 triliyun rupiah. Bisa dibayangkan, betapa besar biaya yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan pesta demokrasi ini. Ini belum termasuk biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing person yang maju dalam perhelatan tersebut. Mereka harus mengeluarkan biaya miliyaran rupiah, jual ini dan itu, utang ke sana kemari kepada penyokong dana. Dengan berbagai pengorbanan yang luar biasa ini, kita bisa memahami bahwa kekuasaan atau politik, telah dijadikan tujuan (ghayah). Sebab, tidak ada orang yang mati-matian mengeluarkan biaya, tenaga, dan waktu, kecuali dia memiliki tujuan. Seorang pelajar rela les kesana kemari dengan biaya mahal, bapaknya nyogok sana sini dengan biaya besar, tentu memiliki tujuan, misalnya agar diterima di perguruan tinggi favorit. Dan bagi para politisi demokrasi, dengan melihat realitas yang ada, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa politik atau kekuasaan dalam pandangan mereka, telah dijadikan tujuan (ghayah), dan bukan jalan (thariqah) untuk mewujudkan sesuatu yang seharusnya dijadikan tujuan. Padahal, dimana-mana, ketika tujuan sudah dicapai, so what? Tidak ada. Tidak ada lagi yang dilakukan, karena tujuannya memang sudah tercapai. Aktivitas para politisi setelah tujuan mereka tercapai, seolah hanyalah menjadi formalitas belaka. Kunjungan kerja ke sana kemari, gariskan kebijakan ini dan itu, yang kalau dilihat kembali, bertolak belakang dengan tujuan yang seharusnya mereka capai. Kesibukan mereka setelah tujuan tercapai, tidak lebih sibuk dari sebelum Kita bisa melihat, untuk menghelat pesta demokrasi 2014 yang menghabiskan 14 triliyun, hasilnya adalah utang negara yang terus menumpuk, begitu banyak penjualan aset-aset negara atau aset rakyat, atau pencabutan subsidi untuk rakyat. Begitulah akibatnya, ketika orang tidak memahami dan tidak bisa membedakan mana yang seharusnya menjadi tujuan, dan mana yang seharusnya tidak dijadikan tujuan.

Dan kini, Indonesia akan segera disibukkan dengan pesta demokrasi pilkada serentak 2018. Namanya juga pesta, tentu membutuhkan biaya besar. Berapa biayanya? Masih dikalkulasi lagi. Tetapi yang pasti lebih dari 15 triliyun akan dikeluarkan. Menurut Sekjen Otonomi Daerah Kemendagri, biayanya bahkan akan bisa mencapai 20 triliyun. Sementara itu, pemilu 2019 biayanya juga sudah diperkirakan akan menghabiskan sekitar 15 triliyun. Luar biasa! Biaya sedemikian besar, akan bisa menjadi sia-sia, hilang begitu saja, ketika tujuan yang seharusnya dicapai, ternyata dialihkan untuk hal-hal yang tidak boleh dijadikan tujuan.

Politik dalam Islam adalah Jalan, bukan Tujuan

Hal ini tentu berbeda dengan cara Islam memandang politik. Politik dalam Islam disebut dengan siyaasah, yang memiliki makna mengatur atau memelihara. Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani memandang bahwa politik adalah pengaturan urusan masyarakat, baik ke dalam (negeri) maupun ke luar (negeri). Definisi ini diambil dari berbagai dalil syara'. Misalnya, Rasulullah saw. bersabda: Kaanat banuu Israaiila tasuusuhum al-anbiyaa' (dulu Bani Israil selalu dipimpin dan diatur oleh para nabi). Makna dari frasa tasuusuhum al-anbiyaa' adalah mengatur suatu urusan sebagaimana yang dilakukan pemimpin dan wali. Dengan melihat definisi politik ini, maka akan tergambar bahwa menurut An-Nabhani, politik adalah suatu jalan (thariqah) untuk mengurusi urusan masyarakat. Itu artinya, politik atau kekuasaan, bukanlah tujuan (ghayah). Dan tujuan (ghayah) dari politik Islam adalah untuk menerapkan syariat Islam. 

Syariat Islam adalah aturan-aturan Islam. Aturan-aturan Islam mengatur seluruh aspek dalam kehidupan manusia. Aspek-aspek dalam kehidupan manusia tercakup dalam tiga dimensi, yaitu dimensi hubungan manusia dengan Allah, dimensi hubungan manusia dengan dirinya sendiri (person), dan dimensi hubungan manusia dengan sesama manusia. Dimensi hubungan manusia dengan Allah tercakup dalam aturan tentang peribadatan. Dimensi hubungan manusia dengan dirinya sendiri tercakup dalam aturan tentang hukum-hukum makanan-minuman, pakaian, serta akhlak. Serta dimensi hubungan manusia dengan sesama manusia yang tercakup dalam muamalah dan uqubat. Muamalah adalah berbagai interaksi manusia dengan sesama manusia, mulai dari politik, ekonomi, sosial (pergaulan), pendidikan, keamanan, dan sebagainya. Sedangkan uqubat adalah sistem sanksi yang keberadaannya adalah sebagai penjaga agar sistem muamalah berjalan baik. Semua aspek ini ada dalam kehidupan manusia. Tidak ada satu aspek pun dalam kehidupan manusia yang tidak diatur oleh Islam. Seluruh aturan inilah yang harus diterapkan. Penerapannya hanya akan sempurna jika ada politik atau kekuasaan. Dan ini adalah tujuan dari perjuangan Islam. Jadi, tujuan dari perjuangan Islam yang seharusnya adalah menerapkan syariat Islam, bukan meraih kekuasaan. Sebab, kekuasaan bukanlah tujuan. Kekuasaan 'hanyalah' jalan untuk mewujudkan tujuan yang sebenarnya.

Dari situ bisa dipahami, bahwa jika tujuannya adalah menerapkan syariat Islam, dan yang akan menerapkan syariat Islam ini adalah manusia, maka tidak ada jalan (thariqah) lain selain dengan dakwah. Tanpa adanya dakwah, maka tujuan tidak akan bisa dicapai. Dari penjelasan di atas, bisa dipahami pula, bahwa jika sebuah organisasi dakwah, kok menjadikan politik (kekuasaan) sebagai tujuan, maka hal itu adalah sebuah kesalahan fatal. Sebab, kalau memang kekuasaan atau politik itu dijadikan tujuan (ghayah), sudah selayaknya organisasi tersebut bukan berbentuk organisasi dakwah, melainkan berbentuk organisasi militer atau semimiliter. Karena dengan begitu, maka kekuasaan atau kepemimpinan politik akan bisa dicapai dengan kudeta atau perebutan kekuasaan. Sedangkan organisasi dakwah, yang mau dikudeta apa? Tidak ada. Maka, penting kiranya orang berpikir mendalam dalam perkara ini, agar setiap langkah yang diambil berdasarkan perhitungan yang rasional, bukan emosional. Sebab, ketika orang sudah tidak rasional, maka tindakan-tindakannya cenderung akan menjadi emosional. Jadi, mari berpikir jernih.

Dengan demikian, penting untuk kita melihat kembali bagaimana politik itu dipandang, apakah sebagai sebuah tujuan ataukah sebagai jalan untuk mewujudkan tujuan.

Wallahu a'lam.

Abad Khilafah - Forum Komunikasi Ulama Ahlusunnah Wal Jama’ah (FKU ASWAJA) di Masjid An Nur , Kab. Brebes menggelar acara Mudzakarah Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, pada Ahad (7/1). Tema yang diangkat adalah: Ulama & Ummat  Bersatu Bebaskan Al Quds dari Penjajahan.

Acara dihadiri kurang lebih 100 peserta terdiri dari para ulama dan Tokoh masyarakat dari wilayah pantura bagian utara mulai dari Brebes, Tegal, Pemalang,  juga  Batang, mereka hadir dengan membawa semangat yang sama yaitu semangat perjuangan yang didasari oleh ghiroh Islam dengan menunjukan penentangannya terhadap penjajahan yang dilakukan oleh Israel kepada Palestina. 

Beberapa tokoh yang ikut hadir dalam Mudzakaroh tersebut adalah Ust. H. Imam sanusi (Tarjih PD Muhammadiyah, Bebes), Ust. Nadirin tokoh Brebes, Ust. Zulhaidar , SH ( Tim Pengacara Pembela Muslim), Supriyanto ( Lembaga Hukum Pembebasan) Ust. Khairul Anam ( Pengisi Majelis Ta’lim Majid Sabilunida), Adzwar Mujtahid, S.Pd (Praktisi Pendidikan), Ust. Nanang ( Mualim Tahfidz Kuttab Al Fatih) dan lain-lain.

Pada mudzakaroh tersebut turut serta menyampaikan kalimah minal ulama KH. Abdul Gofar Ismail (Pengasuh Majelis Ta’lim Masjid Hidayatul Hamid, Bulakamba, Brebes) dengan penuh semangat beliau sampaikan bahwa perjuangan dan pengorbanan dalam membela yang haq ada tiga tingkatan paling tinggi nyawa kemudian  harta hati, dan jangan menjadi yang ke empat yaitu orang yang sama sekali tidak mau berjuang dan parahnya sambil mengolok – olok orang yang berjuang, berkaitan dengan tragedi di Palestina, Mudzakaroh ini menjadi penting karena ini merupakan bentuk perjuangan pembelaan terhadap muslim palestina yang sedang di jajah oleh zionis Israel.

Pemaparan materi disampaikan oleh dua pembicara pertama disampaikan oleh Ust. Nashirudin Syukur (Pengasuh Majelis Ta’lim Bayt Quran, Magelang) beliau menyampaikan terkait posisi Al Aqsho yang merupakan tempat yang disucikan oleh kaum muslim , bumi para nabi serta tempat di israkan Nabi Muhammad SAW, dan dalam sejarahnya kaum muslimin telah membebaskan Al Quds dengan darah para syuhada mulai dari masa Khalifah Umar bin Khattab , Sholahudin Al Ayubi  menggelorakan jihad dibawah komando seorang khalifah. Sampai pada masanya ketika khilafah ustmaniyah mengalami kekalahan perang dengan inggris dan sektunya dibuatlah perjanjian sykes picot yang intinya membagi daerah kekuasaan daulah islam menjadi wilayah jajahan inggris dan palestian salahsatunya dari sinilah oarang – orang Yahudi atas bantuan Inggris masuk ke wilayah Palestina dan atas prakarsa LBB (red- PBB) pada 14 Mei 1948 berdirilah negara Israel di Bumi Palestina. Karenaya untuk kembali membesbaskan palestina adalah dengan jihad yang diserukan oleh sebuah institusi pemersatu kaum muslimin yaitu Khilafah Al minhajin nubuwah.

Pemaparan materi berikutnya yang disampaikan oleh Ust. Abdullah ,ST, MT (Forum Silaturahmi Umat Islam Jawa Tengah, Semarang) beliau menyampaikan catatan kritis dari sisi politis terkait solusi yang diberikan untuk mengatasi tragedi palestina yang di anggap tidak mengakar dan mendasar bahkan cendrung membahayakan semisal solusi two state nation (solusi dua negara) mengapa ? karena solusi ini sama saja mengakui keberadaan Israel yang sejatinya adalah penjajah di Palestina, alih – alih menjadi solusi bahkan ini menjadi jalan untuk melangengkan penjajahan terus berlangsung. Secara retoris Abdullah bertanya “lalu kepada siapa kaum muslimin berharap untuk selesaikan palestina” ? kepada PBB tidak mungkin karena lembaga ini yang membidani lahirnya negara Israel, kepada Amerika ? justru amerika yang hari ini mendani kebrutalan yang dilakukan oleh israel dan merupakan induk dari penjajhan yang dilakukan , atau OKI ? yang sampai hari ini hanya bisa beretorika tanpa ada bentuk nyata pembelaan terhadap Palestina yaitu dengan mengirimkan tentara untuk membantu muslim palestina. 

Pada sesi akhir pemaparan beliau menyampaikan bahwa akar masalah palestina adalah karena penjajahan yang dilakukan oleh Israel disebabkan kaum muslimin tidak lagi memiliki pelindung sebuah institusi pemersatu , sebagaimana pada masa Umar bin Khattab, Sholahudin Al Ayubi sampai pada Sultan Abdul Hamid II yaitu Khilafah Islamiyah, karenanya di solusi  tuntas untuk menyelesaikan teragedi Palestina adalah Jihad dan Khilafah.

Di akhir acara turut serta menyampaikan Kalimah minal Ulama Ust. Nidzomubin , SAg ( Ketua DDII Kab. Brebes) beliau sampaikan persetujuannya jika solusi yang diberikan secara tuntas untuk menyelesaikan konflik palestina adalah jihad dan khilafah , apakah mungkin ? pasti karena Allah lah yang akan mempersatukan hati – hati kaum muslimin untuk bersatu, tetap semangat dalam giroh perjuangan dijalan Allah. 

Menjelang berakhirnya acara dibacakan pernyataan sikap Ulama Aswaja Pantura terkait klaim sepihak atas Al Quds sebagai ibukota Israel peserta pun bertakbir menandakan semangat []

Abad Khilafah - Sabtu, 5 Januari 2018 bertempat di Masjid Al Arqam Tosarirejo Wonosobo berlangsung Mudzakarah Ulama' dan Ummat Ahlussunnah Waljama'ah yang dihadiri sekitar 80 orang. Acara yang berlangsung dengan iringan gerimis itu tidak menyurutkan langkah kaki para peserta untuk menuju taman-taman surga yang di dalamnya berkumpul para malaikat untuk mendoakan bagi siapa saja yang berkumpul di majelis ilmu agar diampuni dosa-dosanya.

Mengawali acara dan untuk menghangatkan suasana yang dingin MC sekaligus  moderator Ust Rifai mengajak jamaah yang hadir dengan bacaan ummul kitab dengan harapan acara berlangsung lancar, khidmat dan mendapatkan barakah dari Allah SWT. Menyambung pembukaan para jama'ah dibuat terhanyut dengan pembacaan kalam Illahi yang dibacakan dengan tartil oleh dai muda, yaitu Ust zaenal Arifin.

Usainya kalam Illahi dibacakan semakin memompa semangat para jamaah untuk senantiasa mentadabburi Al Qur'an dan mengamalkannya. Terlebih Ust. Deki selsku Takmir  Masjid Al Arqam Tosarirejo, Wonosobo dalam sambutannya merasa senang dan berbahagia masjidnya dipakai untuk membahas urusan-urusan umat, beliau berharap semoga kedepan ummat bisa bersatu padu dalam dekapan ukhuwah. Sambutan berikutnya di sampaikan oleh shahibul fadhilah, KH. Nasihun Amin, selaku pengasuh Majelis Taklim Daarul Waddaa dan penggagas acara ini beliau menyampaikan bahwa persoalan Palestina adalah persoalan kita bersama ummat Islam, karena kita adalah ummatan wahidah yg harus merasakan juga bahwa penderitaan setiap muslim adalah penderitaan muslim yg lainnya. Di samping itu, KH. Nasihun Amin menyampaikan bahwa alasan harus membela Al Quds  karena Al Quds adalah kiblat ummat muslim yang kedua dan oleh karenanya wajib hukumnya kaum muslimin untuk membelanya.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ust. Idris Sutrisna, dari komunitas Inspirasi Subuh sekaligus sebagai pelaksana tekhnis penyelenggaraan acara beliau dengan ramah mengucapkan terimakasih atas kehadiran jamaah semua dan mohon maaf apabila ada yg kurang dalam penyambutan, dan beliau menyampaikan bahwa pentingnya umat memahami apa sebetulnya problem utama dari persoalan palestina, yg kita wajib utk mengetahuinya

Setelah sambutan yang menyemangati ghiroh peserta akhirnya tepat pada pukul 20.30 tibalah sesi pemaparan materi yang disampaikan oleh Ust. M. Naim Yasin selaku Pengasuh Majelis Terjemah Al Qur'an Purworejo. Dalam pemaparannya beliau menyinggung point-point penting yang mendasari adanya krisis pencaplokan Palestina oleh Israel dan AS, point tersebut adalah :
  • Persoalan Palestina adalah persoalan yang berulang-ulang dan harus dituntaskan sampai ke akarnya
  • Palestina adalah milik kaum muslim yg telah dibebaskan melalui tangan khalifah Umar bin Khattab, maka statusnya adalah tanah kharijiyah milik kaum muslimin
  • Pada perang dunia ke-2 dengan kemenangan di tangan Inggris dan sekutunya mereka kemudian mensponsori berdiri nya Israel dan sekarang eksistensi Israel didukung oleh AS mereka dengan terang-terangan mengumumkan bahwa Yerussalem sebagai ibukota Israel
  • Atas Pengumunan tersebut, menurut jumhur ulama wajib hukumnya bagi kaum muslim untuk membebaskan Al Quds bagi ummat Islam yang ada di sekitar Al Quds, jika kewajiban itu belum tercukupi maka seluruh kaum muslim di dunia wajib ikut membebaskan
  • Upaya membebaskan Al Quds harus dilakukan dengan aktivitas jihad yang dikoordinir oleh seorang imam, yakni khilafah. Maka kewajiban mengangkat seorang Imam atau Kholifah adalah wajib
  • Mengangkat khilafah bukan perkara baru, tapi eksitensi itu sdh pernah ada dan berlangsung kurang lebih 13 abad, sehingga ketika kita berkeinginan utk mendirikan khilafah maka semuanya itu sudah dipersiapkan. Ibarat mendirikan rumah, maka: insinyurnya, tukangnya, materialnya, dananya dan lain sebagainya sudah disiapkan. Tinggal umat harus bersemangat dan ikut serta proses terwujudnya dan diangkatnya seorang Imam atau Kholifah tersebut.
Malam semakin larut, selesai pemaparan materi yang membuat peserta semakin paham bahwa kewajiban mengangkat seorang Imam adalah kewajiban yang utama acara dilanjutkan dengan testimoni dari para Ulama yang memberikan pencerahan bagi jamaah sekalian. Kalimah minal Ulama yang pertama disampaikan K. Ibnu Mundzir, Pengasuh Majelis Nujahadah Ikhwanul Mukminin Wonosobo, dalam testimoni nya beliau

merasa prihatin atas kondisi palestina dan berharap supaya umat bersatu padu mendorong penguasa muslim untuk mengirimkan militer ke Palestina. Kalimah minal Ulama berikutnya disampaikan oleh Ust. Sugeng Pribadi, selaku penasehat Yayasan As Shoft Wonosobo, beliau merasa sangat senang bahwa Mudzakarah kali ini tidak melihat bendera, tidak membedakan hijau, biru, merah, dia berharap acara seperti ini sebagau sarana menyatukan ummat.

Testimoni berikutnya disampaikan Ust. Burhan. Dalam testimoninya beliau menyampaikan kesedihannya atas kondisi kaum muslimin saat ini. Penderitaan muslim di Rohingnya, Myanmar, Checnya dan belahan bumi lain termasuk Palestina tidak kunjung tuntas. Menurut beliau,ini bukti bahwa kaum muslim butuh menegakkan institusi yg memakai Al Quran dan As sunnah sbg hukum pengaturannya dengan dipimpin seorang khilafah, agar adanya khilafah mampu menolong kaum muslimin yang tertindas dan terdzolimi.

Seluruh rangkaian acara selesai dengan ditutup doa yg dipimpin oleh KH. Nasihun Amin. Dalam lantunan doa yang khusyuk seluruh peserta berharap agar Khilafah terwujud dalam waktu yang dekat.

Menyempurnakan rangkaian acara di bacakankah pernyataan sikap oleh K. Ibnu mundzir dan ditirukan oleh semua peserta dengan berdiri dan tangan mengepal pernyataan sikap di teriakkan. Adapun isi pernyataan sikapnya adalah sebagai berikut:

1) Menolak klaim Presiden AS Donald Trump atas Yerussalam maupun Tel Aviv sebagai Ibukota Israel, 2) Menolak solusi dua negara untuk Palestina 3) Menyeru kepada penguasa dan umat Islam untuk menyadari bahwa solusi bagi Palestina adalah Jihad fii Sabilillah, 4) Menyerukan tegaknya sistem Islam yaitu Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwah sebagai pengobar jihad untuk solusi tuntas Palestina, 5) Menyeru kepada penguasa negeri muslim agar tidak berhubungan dengan Amerika dan Israel yang jelas-jelas memusuhi umat Islam, 6) Menyatakan komitmen akan mengadakan aksi yang lebih besar dari sebelumnya apabila seruan ulama ini tidak diindahkan.[]

Abad Khilafah  - Tak kurang dari 150  jamaah selapanan ahad pahing berkumpul di Pondok Pesantren Al Barokah Magelang pada ahad pagi 7/1 /2018.

Pada acara selapanan yang juga di meriahkan dengan hadroh tersebut,  Kyai Musif Muhaimin selaku tuan rumah menyampaikan bahwa umat islam adalah khoiru ummah/umat terbaik yang diciptakan oleh ALLAH SWT. Namun sebutan khoiru ummah tersebut tidak bisa  terwujud bila umat islam masih bercerai berai dan bermusuhan hanya dikarenakan perbedaan furu'. Maka menjadi penting persatuan umat Islam dari berbagai kelompok agar sebutan tersebut benar benar  terwujud. Lebih dari itu beliau juga menambahkan bahwa
Solusi dari permasalahan yang melanda umat islam dewasa ini adalah dengan menjadikan Al Quran dan as sunah sebagai panduan dalam kehidupan.

Sebagai pembicara inti dalam acara ini beliau KH Ahmad Fadholi. Beliau merupakan pimpinan Pondok Pesantren NDM surakarta. Dalam kesempatan tersebut beliau menyampaikan sejarah palestina secara rinci dari zaman di taklukkannya oleh sahabat Umar Bin Khottob hingga zaman sekarang. Beliau menjelaskan bahwa permasalahan palestina tidak sekedar permasalah dunia Arab, namun merupakan permasalahan kaum muslimin seluruhnya. Sehingga untuk menyelesaikan permasalahan palestina saat ini di butuhkan persatuan dan  sumbangsih dari segenap elemen umat islam seluruh dunia.

Beliau menyatakan bahwa perbedaan-perbedaan furu' yang ada di tubuh umat islam tak boleh menjadi alasan tidak bersatunya umat islam. Bahwa umat islam berbeda dalam beberapa hal memang sunatullah, Namun hal itu bukan menjadi penghalang bersatunya umat islam dalam satu institusi politik.

Beliau menambahkan Perebutan wilayah palestina oleh zionis israel sebenarnya akan mudah di hadapi umat islam jika saja mereka bersatu dalam institusi politik seperti halnya dulu dalam era sholahuddin al ayyubi yaitu persatuan umat islam yang di pimpin oleh satu Kholifah dengan sistemnya Khilafah.

Dari peserta yang hadir, para jamaah terlihat antusias dalam menyimak pemaparan materi  ini dari awal hingga akhir acara.

Kurang lebih jam 11.30 acara ini di tutup dengan pembacaan doa dan foto bersama.

Abad Khilafah - Kurang lebih sekitar 50 Ulama dan Tokoh dari tiga Kabupaten ( Purbalingga, Banyumas dan Banjarnegara) hadir  berkumpul di Gedung IPHI Kab. Purbalingga dalam acara Mudzakarah Ulama dan Tokoh, pada Sabtu (6/1) malam Ahad.

KH. Ainul Yaqin yang hadir menyampaikan  materi Mudzakaroh menjelaskan tentang sejarah Palestina dan berdirinya negara Israel. bahwa wilayah Palestina adalah milik umat Islam sedunia sejak ditaklukan pada masa Khalifah Umar ibn Khathab. Sementara Negara Israel adalah negara perampok yg merampas tanah Palestina dengan dibantu oleh Inggris sebagai ibunya dan diasuh oleh Amerika sebagai bapaknya.

Sementara itu Bapak Zulhaidir, SH, Tim pengacara muslim dan Ormas Islam yang juga turut hadir. Beliau memaparkan tinjauan hukum di Indonesia terkait ajaran khilafah yang dalam pandangan beliau ajaran khilafah tidak lah bertentangan dengan UU yang ada. 

Turut hadir dalam acara tersebut KH. Akhmad Kamal Ismail (Penasehat MUI Purbalingga), Ust. Kasyoto AN (Pengasuh Majlis Taklim Ahad Pagi), KH. Drs. Munir (Ketua IPHI Purbalingga), Bapak Syiyamdi El Fikri (Lurah Dermasari Susukan Banjarnegara), Bapak Guruh (Syarikat Islam Purbalingga) dan Ust. Ki Sunardi (Tokoh Masyarakat dan Pegiat Budaya Banyumas).

Dalam sesi kalimah minal ulama, bapak Syiyamdi El Fikri  menyampaikan bahwa Khilafah selain solusi bagi Palestina, ajaran khilafah juga sesuai Pancasila. Karena ajaran khilafah berprinsip pada Ketuhanan YME atau nilai tauhid dan ketauhidan Itu yang paling pokok...tegas beliau.

Ki Sunardi juga menambahkan bahwa tentang kemunculan khilafah atau disebutnya ratu sejagat sebetulnya juga disinggung dalam kitab Jawa kuno Jayabaya. 

Sebelum acara ditutup dibacakan pernyataan sikap oleh KH. Akhmad Kamal Ismail diantaranya :
dalam rangka amar ma'ruf nahi munkar, umat  dan para ulama wajib mendorong penguasa negeri2 Islam agar mengirimkan militer untuk berjihad mengusir israel.

Meski hal itu (jihad melawan Israel) disadari sulit dilakukan, disebabkan mereka sudah tersekat-sekat oleh paham negara bangsa. Maka supaya jihad bisa terlaksana, umat harus berpijak pada prinsip kesatuan umat, prinsip ahlussunah Sunnah wal jamaah yaitu bersatu dalam satu kepemimpinan khilafah.  Maka menjadi wajib bagi Ulama dan tokoh untuk terus dan secara gencar mendakwahkan tegaknya khilafah, yang dengannya kehidupan Islam bisa berlangsung, termasuk pelaksanaan hukum jihad melawan penjajah.

Tepat pukul 22.30 acara Mudzakaroh ditutup dengan doa dan foto bersama.

Alhamdulillah...

Abad Khilafah

{facebook#http://facebook.com/AbadKhilafah} {twitter#http://twitter.com/AbadKhilafah} {google-plus#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#http://instagram.com/AbadKhilafah}

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget